JAKARTA — Dalam suasana peringatan Bulan Pendidikan Nasional, pemerintah melalui kolaborasi antara Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menegaskan peran vital lembaga pendidikan Islam. Madrasah dan pondok pesantren dinilai bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pilar utama dalam membangun karakter generasi muda menyongsong Visi Indonesia Emas 2045.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama dalam Simposium Nasional Transformasi Pendidikan Islam yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, pada Sabtu (16/5).
Transformasi Nilai Spiritual dan Teknologi
Dalam sambutannya, Menteri Agama menyoroti bahwa esensi pendidikan (tarbiyah) dalam Islam sangat sejalan dengan filosofi pendidikan nasional yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara.
"Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencetakan ijazah atau kebanggaan akademik semata. Dalam konsep Islam, pendidikan harus melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Inilah esensi merdeka belajar yang sesungguhnya—membebaskan manusia dari kebodohan sekaligus membentengi mereka dengan moralitas spiritual," tegas Menag.
Lebih lanjut, pemerintah saat ini tengah menggalakkan program transformasi digital di lembaga pendidikan keagamaan. Berdasarkan data terbaru Kemenag, lebih dari 5.000 madrasah dan pondok pesantren di berbagai daerah telah menerima bantuan infrastruktur teknologi. Hal ini bertujuan agar para santri dan siswa madrasah tidak hanya melek kitab kuning, tetapi juga mampu bersaing di era disrupsi teknologi.
Sinergi Kurikulum Nasional dan Agama
Di tempat yang sama, perwakilan dari Kemendikbudristek mengapresiasi inovasi yang terus dilakukan oleh ekosistem pendidikan Islam. Pengakuan negara terhadap ijazah pondok pesantren melalui Undang-Undang Pesantren terbukti mampu meningkatkan akses pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi bagi para santri.
"Sinergi antara kurikulum nasional dan nilai-nilai keislaman yang moderat sangat dibutuhkan. Generasi penerus kita harus adaptif terhadap sains dan teknologi, namun tetap memiliki jangkar etika yang kuat. Madrasah dan pesantren telah membuktikan kemampuannya dalam memadukan kedua hal tersebut," ujarnya.
Fokus Peningkatan Kualitas Guru
Selain infrastruktur, fokus utama pemerintah di tahun 2026 adalah pemerataan kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Kemenag menargetkan sertifikasi dan penguatan literasi digital bagi ratusan ribu guru madrasah dan guru PAI di sekolah umum.
Program penguatan ini diharapkan mampu membekali para pendidik untuk merespons tantangan zaman, mulai dari maraknya hoaks hingga degradasi moral di kalangan remaja, melalui pendekatan pembelajaran agama yang lebih menyenangkan, inklusif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Simposium ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara tokoh-tokoh pendidikan, kiai, dan akademisi untuk terus mendorong kurikulum pendidikan Islam yang mengedepankan nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan kecintaan pada Tanah Air.