Ikuti perkembangan terbaru mengenai penelitian, pengabdian masyarakat, dan kebijakan akademik LPPM STIESNU Bengkulu.
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Bengkulu melalui Jurnal AGHNIYA: Islamic Economic and Banking Education Journal resmi membuka Call for Papers untuk penerbitan Volume 9 Nomor 2 Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, serta praktisi pendidikan untuk mempublikasikan hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang ekonomi dan keuangan syariah.Dalam poster publikasi yang dirilis, pihak jurnal mengundang para penulis dari berbagai kalangan untuk mengirimkan artikel ilmiah terbaiknya sebelum batas akhir pengumpulan naskah pada 1 Juni 2026. Adapun edisi jurnal tersebut dijadwalkan terbit pada Juli 2026.Jurnal AGHNIYA memiliki fokus kajian yang cukup luas dalam bidang ekonomi Islam dan keuangan syariah, di antaranya meliputi Islamic banking & sharia financing models, manajemen risiko dan tata kelola syariah, regulasi keuangan Islam, fintech dan artificial intelligence dalam keuangan syariah, ekonomi makro dan mikro Islam, zakat dan wakaf, pasar modal syariah, keuangan hijau dan berkelanjutan, hingga isu-isu kontemporer dalam ekonomi Islam.Selain itu, jurnal ini juga membuka ruang publikasi untuk penelitian terkait inklusi keuangan, ekonomi halal, mikrofinansial syariah, teori hukum Islam, dan berbagai pengembangan kajian ekonomi syariah lainnya.Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa publikasi ini diharapkan mampu menjadi media kontribusi ilmiah dalam pengembangan literatur ekonomi Islam, sekaligus memperkuat budaya riset di lingkungan akademik. Jurnal AGHNIYA juga telah terindeks dan terhubung dengan berbagai platform akademik seperti Google Scholar, Garuda, Mendeley, dan Turnitin. Bagi penulis yang ingin mengirimkan artikel, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui admin panitia pada nomor 0821-7595-3817, 0852-1094-4759, dan 0823-7439-4799. Adapun lokasi penerbit berada di Kampus STIESNU Bengkulu, Jalan Pancurmas, Sukarami, Selebar, Kota Bengkulu.
JAKARTA – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi meluncurkan program akselerasi digital terbaru yang berfokus pada wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Program ini menghadirkan platform pembelajaran pintar berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dapat diakses secara luring (offline) maupun daring.Menteri Pendidikan menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk memangkas kesenjangan kualitas pendidikan antara kota-kota besar dan daerah pelosok."Teknologi tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka yang di kota. Dengan platform baru ini, anak-anak di pedalaman Papua, Maluku, hingga NTT bisa mendapatkan tutor personal berbasis AI yang menyesuaikan kecepatan belajar mereka," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.Keunggulan Platform BaruAkses Tanpa Internet (Luring): Materi pembelajaran dan asisten AI telah dikompresi ke dalam perangkat lokal yang didistribusikan ke sekolah-sekolah, sehingga tidak memerlukan kuota internet stabil.Kurikulum Adaptif: AI akan menganalisis kemampuan siswa secara personal dan memberikan materi serta latihan soal yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.Pelatihan Guru Otomatis: Platform ini juga dilengkapi modul peningkatan kompetensi guru secara mandiri.Tantangan Infrastruktur dan Sinergi DaerahPengamat pendidikan dari Universitas Indonesia menyambut baik inovasi ini, namun memberikan catatan kritis terkait konsistensi di lapangan."Inovasi ini sangat baik. Namun, tantangan terbesarnya ada pada dua hal: pasokan listrik yang stabil dan pendampingan literasi digital bagi para guru. Pemerintah pusat harus bersinergi kuat dengan pemerintah daerah agar perangkat yang dikirim tidak mangkrak," tuturnya.Sebagai uji coba tahap pertama, pemerintah telah mendistribusikan 50.000 gawai pintar dan server lokal ke 1.200 sekolah di wilayah 3T. Evaluasi berkala akan dilakukan dalam enam bulan ke depan sebelum program ini diterapkan secara nasional.Dampak Nyata bagi SiswaDi salah satu sekolah percontohan di Kab. Manggarai Barat, NTT, para siswa mengaku sangat antusias. Kepala Sekolah setempat menyampaikan bahwa kehadiran teknologi ini membuat anak-anak lebih betah di kelas. "Dulu materi kami sangat terbatas pada buku cetak yang sering terlambat datang. Sekarang, anak-anak bisa melihat simulasi sains interaktif langsung dari layar," ungkapnya.Dengan adanya langkah masif ini, wajah pendidikan Indonesia diharapkan dapat bertransformasi menjadi lebih inklusif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global di masa depan.
Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di balik gemerlap kemajuan teknologi dan globalisasi, kita menghadapi tantangan kemanusiaan yang kian kompleks. Salah satu isu global yang paling mendesak dan menyita perhatian dunia—termasuk dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) PBB—adalah kesetaraan gender dan penghapusan segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Di Indonesia, fenomena ini bagai fenomena gunung es; yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dari realitas kelam yang dialami oleh perempuan dan anak-anak.Menghadapi urgensi ini, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading yang asyik dengan teori. Kampus harus bertransformasi menjadi benteng pertahanan moral dan ruang aman bagi peradaban. Di sinilah STIESNU (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama) Bengkulu mengambil peran progresifnya melalui pembentukan PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak).PSGA STIESNU Bengkulu: Lebih dari Sekadar SingkatanPSGA adalah singkatan dari Pusat Studi Gender dan Anak STIESNU Bengkulu. Namun, secara esensial, PSGA bukan sekadar struktur birokrasi kampus atau pemanis portofolio akademik. PSGA adalah sebuah manifestasi kepedulian, sebuah motor penggerak keadilan sosial yang berbasis pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.Di tengah gempuran isu global mengenai bias gender dan kerentanan hak anak, PSGA STIESNU Bengkulu hadir sebagai oase. Lembaga ini mengemban misi berat namun mulia: mengarusutamakan gender (Gander Mainstreaming), melakukan riset-riset akademis yang berpihak pada korban, serta menyusun strategi edukasi untuk memutus mata rantai kekerasan seksual.Merespons Isu Global dan Darurat SeksualMengapa isu gender dan anak menjadi begitu krusial di era global? Karena modernisasi sering kali berjalan timpang. Ketika ekonomi dan teknologi melesat, proteksi terhadap kelompok rentan justru kerap tertinggal. Kekerasan seksual, pelecehan, hingga eksploitasi anak kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, melainkan telah merambah ke dunia digital (cyberbullying dan KBGO).Sebagai perguruan tinggi berbasis Nahdlatul Ulama, STIESNU Bengkulu memiliki tanggung jawab moral ganda. Pertama, tanggung jawab akademik untuk melahirkan intelektual yang kritis. Kedua, tanggung jawab religius-sosial untuk membumikan konsep Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam). Melalui PSGA, STIESNU Bengkulu menegaskan bahwa memperjuangkan hak perempuan dan anak adalah bagian dari jihad kemanusiaan yang tidak bisa ditawar.Peran Strategis STIESNU Bengkulu ke DepanMelalui PSGA, STIESNU Bengkulu dapat mengambil tiga peran strategis sekaligus:Edukator dan Preventor: Menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari kekerasan seksual (Zero Tolerance). Edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual harus diintegrasikan, baik melalui sosialisasi formal maupun internalisasi nilai keagamaan yang moderat dan menghargai martabat manusia.Ruang Aman dan Advokasi: PSGA harus mampu memposisikan diri sebagai "rumah yang ramah" bagi korban. Tempat di mana korban berani bersuara tanpa takut dihakimi (victim blaming), serta mendapatkan pendampingan psikologis dan hukum yang memadai.Pusat Riset dan Kebijakan: Hasil kajian dari PSGA STIESNU Bengkulu diharapkan mampu menyuplai data dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah di Bengkulu dalam merumuskan regulasi yang pro-gender dan perlindungan anak.KesimpulanIsu gender, anak, dan kekerasan seksual bukanlah urusan domestik kelompok tertentu saja, melainkan indikator peradaban suatu bangsa. Kehadiran PSGA STIESNU Bengkulu adalah bukti nyata bahwa kampus ini siap berselancar di atas ombak isu global, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai agen perubahan.Dengan komitmen yang kuat, PSGA STIESNU Bengkulu tidak hanya akan melahirkan sarjana ekonomi syariah yang kompeten secara finansial, tetapi juga sarjana yang memiliki empati sosial tinggi, responsif gender, dan siap menjadi pelindung bagi generasi masa depan. Mengakhiri kekerasan seksual dan ketimpangan gender dimulai dari kesadaran, dan STIESNU Bengkulu telah menyalakan lilin kesadaran itu melalui PSGA.
JAKARTA — Dalam suasana peringatan Bulan Pendidikan Nasional, pemerintah melalui kolaborasi antara Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menegaskan peran vital lembaga pendidikan Islam. Madrasah dan pondok pesantren dinilai bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pilar utama dalam membangun karakter generasi muda menyongsong Visi Indonesia Emas 2045.Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama dalam Simposium Nasional Transformasi Pendidikan Islam yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, pada Sabtu (16/5).Transformasi Nilai Spiritual dan TeknologiDalam sambutannya, Menteri Agama menyoroti bahwa esensi pendidikan (tarbiyah) dalam Islam sangat sejalan dengan filosofi pendidikan nasional yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara."Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencetakan ijazah atau kebanggaan akademik semata. Dalam konsep Islam, pendidikan harus melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Inilah esensi merdeka belajar yang sesungguhnya—membebaskan manusia dari kebodohan sekaligus membentengi mereka dengan moralitas spiritual," tegas Menag.Lebih lanjut, pemerintah saat ini tengah menggalakkan program transformasi digital di lembaga pendidikan keagamaan. Berdasarkan data terbaru Kemenag, lebih dari 5.000 madrasah dan pondok pesantren di berbagai daerah telah menerima bantuan infrastruktur teknologi. Hal ini bertujuan agar para santri dan siswa madrasah tidak hanya melek kitab kuning, tetapi juga mampu bersaing di era disrupsi teknologi.Sinergi Kurikulum Nasional dan AgamaDi tempat yang sama, perwakilan dari Kemendikbudristek mengapresiasi inovasi yang terus dilakukan oleh ekosistem pendidikan Islam. Pengakuan negara terhadap ijazah pondok pesantren melalui Undang-Undang Pesantren terbukti mampu meningkatkan akses pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi bagi para santri."Sinergi antara kurikulum nasional dan nilai-nilai keislaman yang moderat sangat dibutuhkan. Generasi penerus kita harus adaptif terhadap sains dan teknologi, namun tetap memiliki jangkar etika yang kuat. Madrasah dan pesantren telah membuktikan kemampuannya dalam memadukan kedua hal tersebut," ujarnya.Fokus Peningkatan Kualitas GuruSelain infrastruktur, fokus utama pemerintah di tahun 2026 adalah pemerataan kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Kemenag menargetkan sertifikasi dan penguatan literasi digital bagi ratusan ribu guru madrasah dan guru PAI di sekolah umum.Program penguatan ini diharapkan mampu membekali para pendidik untuk merespons tantangan zaman, mulai dari maraknya hoaks hingga degradasi moral di kalangan remaja, melalui pendekatan pembelajaran agama yang lebih menyenangkan, inklusif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.Simposium ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara tokoh-tokoh pendidikan, kiai, dan akademisi untuk terus mendorong kurikulum pendidikan Islam yang mengedepankan nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan kecintaan pada Tanah Air.
BENGKULU — Menjawab tantangan disrupsi teknologi dan informasi yang kian masif, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama (STIESNU) Bengkulu resmi meluncurkan Pusat Penelitian Teleteknologi dan Etika Digital. Peresmian ini menjadi langkah strategis institusi dalam memadukan inovasi teknologi modern dengan landasan moral serta nilai-nilai pendidikan Islam.Pusat penelitian ini didirikan sebagai wadah kajian akademis komprehensif yang berfokus pada persimpangan antara perkembangan sistem informasi, teleteknologi, dan tanggung jawab moral di era digital.Mengawal Moralitas di Tengah Cepatnya Arus InformasiDi era di mana digitalisasi, kecerdasan buatan, dan sistem manajemen terintegrasi semakin mendominasi, etika dalam pemanfaatan teknologi menjadi isu yang sangat krusial. Kehadiran lembaga riset ini diharapkan mampu merumuskan kerangka etis yang logis dan relevan, guna memastikan teknologi digunakan untuk membangun peradaban yang beradab, bukan sebaliknya.Salah satu agenda kajian utama yang disoroti oleh pusat penelitian ini adalah diskursus mengenai "Etika Digital dan Tanggung Jawab Moral". Fokus ini bertujuan untuk memberikan landasan filosofis dan pedoman praktis bagi akademisi maupun masyarakat luas mengenai bagaimana bersikap bijak dan beretika di ruang siber.Sinergi Riset dan Tata Kelola AkademikSelain berfokus pada literatur dan kajian teoretis, Pusat Penelitian Teleteknologi dan Etika Digital ini juga akan memberikan sumbangsih langsung pada tata kelola kampus. Hasil riset diharapkan dapat diejawantahkan ke dalam pengembangan sistem informasi akademik yang terstandarisasi, serta mendukung upaya penjaminan mutu internal kampus secara sistematis.Inovasi yang dilahirkan dari pusat studi ini sekaligus diproyeksikan untuk memperkuat pondasi tata kelola administratif dan rekam jejak riset kampus. Hal ini sangat vital dalam mendukung langkah-langkah strategis institusi ke depan, termasuk proses penguatan kelembagaan dan penjenjangan akreditasi.Melalui peluncuran ini, STIESNU Bengkulu menegaskan posisinya bahwa pendidikan tinggi Islam harus mampu mengambil peran ganda: menjadi pengembang sistem teknologi yang andal, sekaligus hadir sebagai kompas moral yang senantiasa menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah pesatnya kemajuan zaman.